wali.co.id
  • Home
  • Indonesia
  • Tuntutan Jaksa Dinilai Terlalu Rendah, Keluarga Korban Pembunuhan Hamzah Siregar Kecewa
Jumat, 19 Mei 2017 21:27:00

Tuntutan Jaksa Dinilai Terlalu Rendah, Keluarga Korban Pembunuhan Hamzah Siregar Kecewa

Dokumentasi
Rekonstruksi pembunuhan Hamzah Siregar.

Wali.co.id - Keluarga korban pembunuhan almarhum Hamzah Siregar oleh rekannya sendiri, merasa kecewa terhadap JPU dalam sidang tuntutan, Kamis (18/5/2017) kemarin yang digelar Pengadilan Negeri Padangsidimpuan.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Negeri Padangsidimpuan dalam kasus kematian Hamzah Siregar, Gabena Pohan dan Juliana Siregar memberikan  tuntutan yang dianggap sangat rendah dibanding dengan perlakuan para pelaku terhadap korban yang berujung kematian.

Hal itu kemudian menimbulkan kekecewaan keluarga korban terhadap JPU yang menuntut para pelaku masing-masing A (17) dan F (19) hanya dengan hukuman, 5 dan 6 tahun penjara.

Kepada  Wartawan, Adnan Buyung Lubis SH selaku kuasa hukum keluarga korban, Jumat (19/5/2017) menuturkan, pihak keluarga korban sangat kecewa dan sudah melayangkan surat protes yang ditujukan ke Kejari Padangsimpuan

“Surat protes itu berkaitan dengan rasa kekecewaan keluarga korban Hamzah Siregar dan menolak isi tuntutan JPU tersebut serta meminta tuntutan maksimal diberikan kepada para tersangka,” ujarnya di kantornya di Jalan Sutan Muhammad Arif, Kota Padangsidimpuan, Sumatera Utara.

Bung Buyung, sapaan akrab Adnan Buyung lebih lanjut menyampaikan, keluarga sangat berharap para pelaku diberikan hukuman maksimal oleh majelis hakim yang memimpin persidangan perkara ini. Sebab katanya, meskipun para pelaku masih terhitung anak di bawah umur, akan tetapi korban pun juga demikian.

Sebelumnya, pada kesimpulan rekonstruksi pembunuhan Hamzah Siregar di Markas Polres Padangsidimpuan, Kasat Reserse Kriminal AKP Zul Efendi mengatakan, A siswa SMK Negeri 2 Padangsidimpuan, tersangka utama penikaman Hamzah Siregar, abang kelasnya yang berujung kematian dijerat dengan undang-undang perlindungan anak, dengan ancaman maksimal 15 tahun penjara.

Adapun pasal yang akan dikenakan sesuai dengan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak sebagaimana yang telah diubah oleh Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 yang menyatakan bahwa setiap anak selama dalam pengasuhan orang tua, wali, atau pihak lain manapun yang bertanggung jawab atas pengasuhan, berhak mendapat perlindungan dari perlakukan diskriminasi, penelantaran, kekejaman, kekerasan, dan penganiayaan, ketidakadilan dan perlakuan salah lainnya.

Untuk kasus ini, pasal yang akan dikenakan yaitu Pasal 80 Ayat 3 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, yang berbunyi dalam hal anak sebagaimana dimaksud pada ayat 2 (menyebabkan mati), maka pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 tahun atau denda paling banyak Rp3 miliar. (Saut Togi Ritonga)

Copyright © 2017 wali.co.id. All Rights Reserved